Oleh
Tegar Andito, 112 0547 411 untuk mata kuliah Teori Seni PPS ISI Yogyakarta
1. Tentang Kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Kompleks gereja
Ganjuran dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan
Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu
bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula
Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan
adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit St.Elizabeth
Ganjuran.
Pada perkembangannya,
tahun 1927, dalam kompleks gereja ini dibangun sebuah candi. Candi yang bernama
Candi Hati Kudus Yesus ini dibangun dengan gaya arsitektur Langgam Jawa
Tengahan dengan sebuah salib pada puncak ratna. Di dalam candi ini terdapat
sebuah patung Yesus dengan gaya busana jaman Hindu-Buddha. Di sebelah Utara
candi terdapat sumber air yang telah diberkati dan dipercaya telah dicurahi
karunia penyembuhan dan dapat diambil airnya setiap saat oleh pengunjung. Di
depan candi terdapat pelataran di mana umat dapat duduk menghadap candi untuk
berdoa
Pada peristiwa gempa
bumi di Yogyakarta tahun 27 Mei 2006 lalu, bangunan gereja runtuh, namun candi
tetap selamat. Setelah bangunan gereja lama yang dirancang oleh J Yh Van Oyen runtuh,
dibangun “gereja darurat” di pelataran depan bangunan candi. “gereja darurat”
dibangun dari bahan bambu dengan atap rumbia. Misa[i] setiap hari diadakan
di bangunan ini sampai bangunan gereja yang baru selesai direnovasi.
Pada tanggal 23 Agustus
2009, bangunan gereja baru diresmikan. Bangunan gereja baru ini bergaya
arsitektur seperti sebuah keraton dengan ukir-ukiran yang dikerjakan oleh
pemahat dari Jepara. Warna-warna di dalamnya juga menggunakan warna seperti
bangunan keraton, yakni pareanom yang terdiri dari warna hijau, kuning, putih
dan merah.
Kini,
walaupun bangunan gereja yang permanen sudah berdiri, namun bangunan “gereja
darurat” tidak dibongkar karena dianggap memiliki keunikan tersendiri. Bangunan
ini kini digunakan untuk misa Jumat pertama yang diikuti dengan ritual adorasi[ii]
Sakramen Mahakudus. Sebelum ada “gereja darurat” ini, misa dan adorasi jumat
pertama diadakan di pelataran candi yang kini menjadi tempat berdirinya “gereja
darurat”. di Setelah kapel adorasi di sebelah selatan bangunan gereja baru
diresmikan pada tanggal 26 Juni 2011, ritual adorasi Sakramen Mahakudus
dilanjutkan dengan pentakhtaan Sakramen Mahakudus di dalam kapel[iii].
Misa pada hari raya-hari raya tertentu juga sering dilakukan di bangunan
“gereja darurat”.
2. Sekilas Mengenai Misa Jumat Pertama
dan Adorasi Sakramen Mahakudus
Misa Jumat Pertama dimaksudkan bagi umat Katolik untuk menghormati
dan mengingatkan akan Hati Kudus Yesus. Misa ini juga, bagi keyakinan umat
Katolik, menyegarkan ingatan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus yang
mulia, yang menyelamatkan umat manusia.
Penghormatan khusus
kepada Hati Kudus Yesus setiap hari Jumat pertama ini berasal dari abad
XVII. Devosi[iv] ini berasal dari
riwayat penampakan Yesus kepada Santa Maria Margareta Alacoque di Prancis
antara tahun 1673 dan 1675. Konon waktu itu Yesus memerintahkan agar
suster ini mendorong orang-orang lain untuk menghormati Hati Kudus Yesus setiap
hari Jumat pertama. Hari Jumat dipilih karena hari itu adalah hari ketika Yesus
wafat di salib dengan lambung (dan diyakini juga mengenai hati) yang tertembus
tombak. Misa ini diadakan setiap Jumat yang pertama dalam bulan untuk memudahkan
ingatan orang.
Adorasi Sakramen Mahakudus
adalah tindakan penyembahan Tubuh Kristus yang hadir dalam rupa Sakramen
Mahakudus. Ritual adorasi setelah misa jumat pertama ini diawali dengan lagu
dan doa pembuka. Seusai doa pembuka, kemudian prosesi dilanjutkan dengan pentakhtaan
Sakramen Mahakudus. Imam memindahkan Sakramen Mahakudus atau hosti (roti tak
beragi) yang telah dikonsekrasikan[v] ke dalam mostrans
(semacam bingkai agar Sakramen Mahakudus dapat dilihat oleh umat) dan mentakhtakannya
di atas altar. Setelah ditakhtakan, imam mengenakan velum, yakni sejenis mantol yang digunakan dalam prosesi adorasi
agar imam tidak menyentuh monstrans yang berisi Sakramen Mahakudus secara
langsung. Sakramen Mahakudus yang telah ditahkhtakan kemudian diangkat oleh imam
dan digunakan untuk memberkati umat yang hadir dalam misa pemberkatan biasanya
dilakukan dengan mengangkat monstrans kemudian menggerakkannya sehingga
membentuk gerakan tanda salib. Bagian prosesi ini biasanya diiringi dengan lagu
Tantum Ergo dan O Salutaris Hostia bagian ritual ini disebut Benediction. Bila gereja tempat dilakukannya adorasi pada jumat
pertama ini memiliki kapel adorasi, maka setelah Benediction, ritual dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus
menuju kapel adorasi dan diakhiri dengan pentakhtaan Sakramen Mahakudus di
dalam kapel adorasi.
- Misa
dan Adorasi Jumat Pertama di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Secara garis besar,
misa jumat pertama di gereja ini sama dengan misa jumat pertama di gereja
Katolik yang lain. Yang membedakan dalam misa jumat pertama di Ganjuran ini,
selain dengan implementasi kesenian Jawa juga implementasi persepsi orang Jawa
tentang bagaimana bersikap di hadapan Tuhan. Misa jumat pertama diadakan pukul
18.30 WIB bukan pada hari Jumat seperti di gereja Katolik lain, namun
dilaksanakan pada hari Kamis malam. Bagi orang Jawa, hari tidak dimulai pada
pukul 00.00 namun dimulai pada saat petang. Satu hari berakhir pada saat
petang, dan setelah matahari terbenam hari telah berganti menjadi keesokan
harinya. Itulah mengapa orang Jawa menyebut malam sebelum hari esok dengan nama
hari esoknya diawali dengan kata ‘malam’ (misal, hari kamis malam adalah malam
sebelum jumat, maka malam itu disebut malam Jumat). Hal yang tak biasa dilakukan di gereja Katolik di tempat lain
adalah di depan altar diletakkan sesajen berupa bunga dan sejumlah piranti
sesaji lain, juga ada anglo tempat membakar kemenyan. Dalam sesajen pun ada
yang berbeda dengan sesajen yang digunakan dalam ritual-ritual Kejawen.
Kemenyan yang biasa digunakan dalam ritual-ritual Kejawen diganti dengan
kemenyan yang digunakan dalam liturgi[vi] gereja. Dalam misa,
liturgi seluruhnya menggunakan bahasa Jawa kecuali pada bagian homili (khotbah) yang menggunakan bahasa
Indonesia.
Sebelum misa dilaksanakan, acara diawali dengan pembacaan
intensi misa. Intensi misa adalah permohonan khusus dari sejumlah umat agar
seluruh umat yang hadir ikut mendoakan permohonan khusus tersebut. Intensi misa
biasanya tak hanya berupa permohonan untuk kesembuhan penyakit, permohonan
untuk lancar rejeki, dll namun juga ucapan syukur atas ulang tahun seseorang,
kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga, atau ucapan syukur atas
terkabulnya doa. Umat yang memiliki permohonan khusus dapat menuliskan
permohonan khususnya, dan menyerahkannya kepada petugas yang ada di sana
sebelum misa dimulai.
Setelah kira-kira tiga puluh menit dibacakan intensi misa,
maka misa pun dimulai. Umat menghadap ke altar yang berada di pelataran candi. Lagu
pembukaan dinyanyikan dengan iringan karawitan, dan bersamaan dengan itu, imam
dan para petugas liturgi berjalan dari belakang umat menuju altar. Petugas
liturgi mengenakan pakaian tradisional Jawa. Imam yang umumnya ketika misa
mengenakan jubah, kasula[vii],
dan stola[viii]
pada misa jumat pertama di Ganjuran tidak mengenakan jubah dan kasula. Imam juga mengenakan surjan
seperti petugas liturgi lainnya, namun tetap mengenakan stola. Setelah mencapai hadapan altar, petugas liturgi berdiri
berjajar dengan imam yang berada di tengahnya, lalu imam mendupai altar dengan
mengayun-ayunkan tribulum[ix]
yang telah diberi kemenyan. Imam lalu kembali ke tengah-tengah petugas liturgi,
dan bersama-sama petugas liturgi membungkukkan badan ke arah altar, kemudian
petugas liturgi duduk di tempat yang telah disediakan, sedangkan imam maju ke
altar dan membuat tanda salib dan melakukan ritus pembuka.
Setelah
ritus pembuka, prosesi dilanjutkan seperti misa di gereja Katolik di daerah
lain, yakni dengan ibadat sabda yang berisi pembacaan bacaan Kitab Suci sesuai
kalender liturgi, kemudian homili. Terjemahan
bahasa Jawa digunakan dalam bacaan Kitab Suci, sedangkan homili dalam bahasa Indonesia.
Sehabis
ibadat sabda, kemudian dilanjutkan dengan persembahan. Persembahan yang pokok dalam
misa adalah roti tak beragi dan anggur, namun biasanya juga ada persembahan
kolekte[x]
dan jika misa dilaksanakan pada hari raya kadang ada pula sejumlah persembahan
simbolis lainnya. Dalam misa Jumat pertama di Ganjuran ini, persembahan
simbolisnya adalah sejumlah hasil bumi masyarakat setempat, dan ada pula
sesajen. Persembahan ini diiringi pula dengan lagu-lagu gereja dalam bahasa
Jawa dengan iringan karawitan. Setelah persembahan, dilanjutkan dengan sejumlah
doa dan lagu-lagu, kemudian konsekrasi, sejumlah doa dan lagu-lagu, kemudian
komuni (pembagian Sakramen Mahakudus kepada umat untuk dimakan).
Seusai
komuni, dimulailah ritual adorasi Sakramen Mahakudus. Secara garis besar,
ritual yang dilakukan sama dengan yang dilakukan di tempat lain, namun yang
berbeda, monstrans yang digunakan memiliki bentuk yang mirip dengan gunungan
pada pertunjukan wayang. Pemberkatan tidak dilakukan dengan cara mengangkat
monstrans dan menggerakkannya sehingga membentuk tanda salib, namun Sakramen
Mahakudus yang telah diletakkan di dalam monstrans kemudian diarak oleh imam
mengelilingi umat yang hadir, diikuti pemercikan air suci oleh petugas. Seusai
perarakan, Sakramen Mahakudus diletakkan kembali di altar, lalu lagu Tantum Ergo dinyanyikan. Lagu Tantum Ergo yang merupakan lagu
berbahasa Latin tetap dinyanyikan dengan bahasa Latin, namun dengan melodi dan
aransemen Jawa dan diiringi oleh musik karawitan. Seusai dinyanyikan lagu Tantum Ergo, Sakramen Mahakudus kemudian
diangkat kembali, dan diarak mengelilingi bangunan candi beberapa kali searah
jarum jam, kemudian diarak menuju kapel adorasi untuk ditakhtakan di sana.
[i] Misa atau Perayaan Ekaristi
adalah istilah untuk menyebut ritual kebaktian umat Katolik
[ii] Lihat bagian no.2 paragraf
ketiga
[iii] Kapel adalah
sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi
orang Kristen, atau ruangan yang difungsikan sebagai tempat
ritual gereja
[iv] Dalam iman Katolik, devosi didefinisikan
sebagai: praktek-praktek rohani yang merupakan ekspresi yang konkrit bagi
keinginan untuk melayani dan menyembah Tuhan dengan melalui objek-objek
tertentu, seperti misalnya: misteri Ilahi, orang kudus, benda-benda religius,
atau bahkan realitas yang berhubungan dengan Allah. Definisi lainnya
menggambarkan devosi sebagai suatu bentuk doa diluar liturgi Gereja yang
membantu perkembangan iman umat.
[v] Konsekrasi dilakukan dengan pengucapan berkat atas roti dan
anggur pada saat Perjamuan Kudus
[vi] Liturgi adalah tata peribadatan
[vii] Kasula adalah pakaian luar yang
dikenakan imam saat memimpin Perayaan Ekaristi
[viii] Stola adalah sehelai selempang kain dengan
bordiran
[ix] Tribulum adalah semacam pedupaan
yang digunakan dalam sejumlah ritual gereja Katolik
[x] Kolekte adalah uang yang
diberikan secara sukarela oleh umat yang dikumpulkan sebelum persembahan pada
misa, dan kemudian sebagian dimasukkan ke dalam kotak kolekte, lalu dibawa ke
depan altar sebagai bagian dari persembahan.


0 komentar:
Poskan Komentar