Selasa, 06 Desember 2011

Inkulturasi Budaya Jawa dengan Liturgi Gereja Katolik dalam Misa Jumat Pertama di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Oleh Tegar Andito, 112 0547 411 untuk mata kuliah Teori Seni PPS ISI Yogyakarta

1.      Tentang Kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Kompleks gereja Ganjuran dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit St.Elizabeth Ganjuran.
Pada perkembangannya, tahun 1927, dalam kompleks gereja ini dibangun sebuah candi. Candi yang bernama Candi Hati Kudus Yesus ini dibangun dengan gaya arsitektur Langgam Jawa Tengahan dengan sebuah salib pada puncak ratna. Di dalam candi ini terdapat sebuah patung Yesus dengan gaya busana jaman Hindu-Buddha. Di sebelah Utara candi terdapat sumber air yang telah diberkati dan dipercaya telah dicurahi karunia penyembuhan dan dapat diambil airnya setiap saat oleh pengunjung. Di depan candi terdapat pelataran di mana umat dapat duduk menghadap candi untuk berdoa
Pada peristiwa gempa bumi di Yogyakarta tahun 27 Mei 2006 lalu, bangunan gereja runtuh, namun candi tetap selamat. Setelah bangunan gereja lama yang dirancang oleh J Yh Van Oyen runtuh, dibangun “gereja darurat” di pelataran depan bangunan candi. “gereja darurat” dibangun dari bahan bambu dengan atap rumbia. Misa[i] setiap hari diadakan di bangunan ini sampai bangunan gereja yang baru selesai direnovasi.
Pada tanggal 23 Agustus 2009, bangunan gereja baru diresmikan. Bangunan gereja baru ini bergaya arsitektur seperti sebuah keraton dengan ukir-ukiran yang dikerjakan oleh pemahat dari Jepara. Warna-warna di dalamnya juga menggunakan warna seperti bangunan keraton, yakni pareanom yang terdiri dari warna hijau, kuning, putih dan merah.
Kini, walaupun bangunan gereja yang permanen sudah berdiri, namun bangunan “gereja darurat” tidak dibongkar karena dianggap memiliki keunikan tersendiri. Bangunan ini kini digunakan untuk misa Jumat pertama yang diikuti dengan ritual adorasi[ii] Sakramen Mahakudus. Sebelum ada “gereja darurat” ini, misa dan adorasi jumat pertama diadakan di pelataran candi yang kini menjadi tempat berdirinya “gereja darurat”. di Setelah kapel adorasi di sebelah selatan bangunan gereja baru diresmikan pada tanggal 26 Juni 2011, ritual adorasi Sakramen Mahakudus dilanjutkan dengan pentakhtaan Sakramen Mahakudus di dalam kapel[iii]. Misa pada hari raya-hari raya tertentu juga sering dilakukan di bangunan “gereja darurat”.
2.      Sekilas Mengenai Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Mahakudus
Misa Jumat Pertama dimaksudkan bagi umat Katolik untuk menghormati dan mengingatkan akan Hati Kudus Yesus. Misa ini juga, bagi keyakinan umat Katolik, menyegarkan ingatan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus yang mulia, yang menyelamatkan umat manusia.
Penghormatan khusus kepada Hati Kudus Yesus setiap hari Jumat pertama ini berasal dari abad XVII.  Devosi[iv] ini berasal dari riwayat penampakan Yesus kepada Santa Maria Margareta Alacoque di Prancis antara tahun 1673 dan 1675.  Konon waktu itu Yesus memerintahkan agar suster ini mendorong orang-orang lain untuk menghormati Hati Kudus Yesus setiap hari Jumat pertama. Hari Jumat dipilih karena hari itu adalah hari ketika Yesus wafat di salib dengan lambung (dan diyakini juga mengenai hati) yang tertembus tombak. Misa ini diadakan setiap Jumat yang pertama dalam bulan untuk memudahkan ingatan orang.
Adorasi Sakramen Mahakudus adalah tindakan penyembahan Tubuh Kristus yang hadir dalam rupa Sakramen Mahakudus. Ritual adorasi setelah misa jumat pertama ini diawali dengan lagu dan doa pembuka. Seusai doa pembuka, kemudian prosesi dilanjutkan dengan pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Imam memindahkan Sakramen Mahakudus atau hosti (roti tak beragi) yang telah dikonsekrasikan[v] ke dalam mostrans (semacam bingkai agar Sakramen Mahakudus dapat dilihat oleh umat) dan mentakhtakannya di atas altar. Setelah ditakhtakan, imam mengenakan velum, yakni sejenis mantol yang digunakan dalam prosesi adorasi agar imam tidak menyentuh monstrans yang berisi Sakramen Mahakudus secara langsung. Sakramen Mahakudus yang telah ditahkhtakan kemudian diangkat oleh imam dan digunakan untuk memberkati umat yang hadir dalam misa pemberkatan biasanya dilakukan dengan mengangkat monstrans kemudian menggerakkannya sehingga membentuk gerakan tanda salib. Bagian prosesi ini biasanya diiringi dengan lagu Tantum Ergo dan O Salutaris Hostia bagian ritual ini disebut Benediction. Bila gereja tempat dilakukannya adorasi pada jumat pertama ini memiliki kapel adorasi, maka setelah Benediction, ritual dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus menuju kapel adorasi dan diakhiri dengan pentakhtaan Sakramen Mahakudus di dalam kapel adorasi.
  1. Misa dan Adorasi Jumat Pertama di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Secara garis besar, misa jumat pertama di gereja ini sama dengan misa jumat pertama di gereja Katolik yang lain. Yang membedakan dalam misa jumat pertama di Ganjuran ini, selain dengan implementasi kesenian Jawa juga implementasi persepsi orang Jawa tentang bagaimana bersikap di hadapan Tuhan. Misa jumat pertama diadakan pukul 18.30 WIB bukan pada hari Jumat seperti di gereja Katolik lain, namun dilaksanakan pada hari Kamis malam. Bagi orang Jawa, hari tidak dimulai pada pukul 00.00 namun dimulai pada saat petang. Satu hari berakhir pada saat petang, dan setelah matahari terbenam hari telah berganti menjadi keesokan harinya. Itulah mengapa orang Jawa menyebut malam sebelum hari esok dengan nama hari esoknya diawali dengan kata ‘malam’ (misal, hari kamis malam adalah malam sebelum jumat, maka malam itu disebut malam Jumat). Hal yang tak biasa dilakukan di gereja Katolik di tempat lain adalah di depan altar diletakkan sesajen berupa bunga dan sejumlah piranti sesaji lain, juga ada anglo tempat membakar kemenyan. Dalam sesajen pun ada yang berbeda dengan sesajen yang digunakan dalam ritual-ritual Kejawen. Kemenyan yang biasa digunakan dalam ritual-ritual Kejawen diganti dengan kemenyan yang digunakan dalam liturgi[vi] gereja. Dalam misa, liturgi seluruhnya menggunakan bahasa Jawa kecuali pada bagian homili (khotbah) yang menggunakan bahasa Indonesia.
Sebelum misa dilaksanakan, acara diawali dengan pembacaan intensi misa. Intensi misa adalah permohonan khusus dari sejumlah umat agar seluruh umat yang hadir ikut mendoakan permohonan khusus tersebut. Intensi misa biasanya tak hanya berupa permohonan untuk kesembuhan penyakit, permohonan untuk lancar rejeki, dll namun juga ucapan syukur atas ulang tahun seseorang, kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga, atau ucapan syukur atas terkabulnya doa. Umat yang memiliki permohonan khusus dapat menuliskan permohonan khususnya, dan menyerahkannya kepada petugas yang ada di sana sebelum misa dimulai.
Setelah kira-kira tiga puluh menit dibacakan intensi misa, maka misa pun dimulai. Umat menghadap ke altar yang berada di pelataran candi. Lagu pembukaan dinyanyikan dengan iringan karawitan, dan bersamaan dengan itu, imam dan para petugas liturgi berjalan dari belakang umat menuju altar. Petugas liturgi mengenakan pakaian tradisional Jawa. Imam yang umumnya ketika misa mengenakan jubah, kasula[vii], dan stola[viii] pada misa jumat pertama di Ganjuran tidak mengenakan jubah dan kasula. Imam juga mengenakan surjan seperti petugas liturgi lainnya, namun tetap mengenakan stola. Setelah mencapai hadapan altar, petugas liturgi berdiri berjajar dengan imam yang berada di tengahnya, lalu imam mendupai altar dengan mengayun-ayunkan tribulum[ix] yang telah diberi kemenyan. Imam lalu kembali ke tengah-tengah petugas liturgi, dan bersama-sama petugas liturgi membungkukkan badan ke arah altar, kemudian petugas liturgi duduk di tempat yang telah disediakan, sedangkan imam maju ke altar dan membuat tanda salib dan melakukan ritus pembuka.
Setelah ritus pembuka, prosesi dilanjutkan seperti misa di gereja Katolik di daerah lain, yakni dengan ibadat sabda yang berisi pembacaan bacaan Kitab Suci sesuai kalender liturgi, kemudian homili. Terjemahan bahasa Jawa digunakan dalam bacaan Kitab Suci, sedangkan homili dalam bahasa Indonesia.
Sehabis ibadat sabda, kemudian dilanjutkan dengan persembahan. Persembahan yang pokok dalam misa adalah roti tak beragi dan anggur, namun biasanya juga ada persembahan kolekte[x] dan jika misa dilaksanakan pada hari raya kadang ada pula sejumlah persembahan simbolis lainnya. Dalam misa Jumat pertama di Ganjuran ini, persembahan simbolisnya adalah sejumlah hasil bumi masyarakat setempat, dan ada pula sesajen. Persembahan ini diiringi pula dengan lagu-lagu gereja dalam bahasa Jawa dengan iringan karawitan. Setelah persembahan, dilanjutkan dengan sejumlah doa dan lagu-lagu, kemudian konsekrasi, sejumlah doa dan lagu-lagu, kemudian komuni (pembagian Sakramen Mahakudus kepada umat untuk dimakan).
Seusai komuni, dimulailah ritual adorasi Sakramen Mahakudus. Secara garis besar, ritual yang dilakukan sama dengan yang dilakukan di tempat lain, namun yang berbeda, monstrans yang digunakan memiliki bentuk yang mirip dengan gunungan pada pertunjukan wayang. Pemberkatan tidak dilakukan dengan cara mengangkat monstrans dan menggerakkannya sehingga membentuk tanda salib, namun Sakramen Mahakudus yang telah diletakkan di dalam monstrans kemudian diarak oleh imam mengelilingi umat yang hadir, diikuti pemercikan air suci oleh petugas. Seusai perarakan, Sakramen Mahakudus diletakkan kembali di altar, lalu lagu Tantum Ergo dinyanyikan. Lagu Tantum Ergo yang merupakan lagu berbahasa Latin tetap dinyanyikan dengan bahasa Latin, namun dengan melodi dan aransemen Jawa dan diiringi oleh musik karawitan. Seusai dinyanyikan lagu Tantum Ergo, Sakramen Mahakudus kemudian diangkat kembali, dan diarak mengelilingi bangunan candi beberapa kali searah jarum jam, kemudian diarak menuju kapel adorasi untuk ditakhtakan di sana.


[i] Misa atau Perayaan Ekaristi adalah istilah untuk menyebut ritual kebaktian umat Katolik
[ii] Lihat bagian no.2 paragraf ketiga
[iii] Kapel adalah sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi orang Kristen, atau ruangan yang difungsikan sebagai tempat ritual gereja
[iv] Dalam iman Katolik, devosi didefinisikan sebagai: praktek-praktek rohani yang merupakan ekspresi yang konkrit bagi keinginan untuk melayani dan menyembah Tuhan dengan melalui objek-objek tertentu, seperti misalnya: misteri Ilahi, orang kudus, benda-benda religius, atau bahkan realitas yang berhubungan dengan Allah. Definisi lainnya menggambarkan devosi sebagai suatu bentuk doa diluar liturgi Gereja yang membantu perkembangan iman umat.
[v] Konsekrasi dilakukan dengan pengucapan berkat atas roti dan anggur pada saat Perjamuan Kudus
[vi] Liturgi adalah tata peribadatan
[vii] Kasula adalah pakaian luar yang dikenakan imam saat memimpin Perayaan Ekaristi
[viii] Stola adalah sehelai selempang kain dengan bordiran
[ix] Tribulum adalah semacam pedupaan yang digunakan dalam sejumlah ritual gereja Katolik
[x] Kolekte adalah uang yang diberikan secara sukarela oleh umat yang dikumpulkan sebelum persembahan pada misa, dan kemudian sebagian dimasukkan ke dalam kotak kolekte, lalu dibawa ke depan altar sebagai bagian dari persembahan.

0 komentar: